twitter


Kartini tiada sama sekali melarang perempuan kawin, malahan hal itu dipandangnya pelabuhan yang paling banyak memberi bahagia kepadanya. Jadi belajar vak itu cuma perlu supaya jangan dapat dipaksa kawin dengan orang yang tidak disukainya, dan juga supaya jangan merasa wajib takluk kepada suaminya.
(Sifat Cita-cita Kartini oleh Armijn Pane)

                 Banyak orang yang menganggap emansipasi Kartini belum selesai, masih banyak yang harus terus diperjuangkan. Tapi banyak pula yang menganggap emansipasi Kartini sudah cukup. Wanita sekarang sudah sejajar hak dan kedudukannya dengan pria. Tidak ada lagi perlakuan yang mengistimewakan pria dari wanita. Tentu kita semua menyadari bahwa cita-cita Kartini sudah tercapai sekarang. Kini, wanita sudah dihargai keberadaannya dan dapat berkembang. Tidak lagi kaku dan kolot akan adat lama dimana wanita selalu berada di bawah pria. Namun sepertinya wanita sekarang masih belum merasa cukup akan semua itu. Tampaknya mereka tidak hanya menginginkan kesamaan derajat dengan pria melainkan ingin dianggap lebih. Hal ini terlihat dari banyaknya wanita karir yang sudah melupakan kodratnya sebagai seorang wanita, anak, istri, dan ibu.
                Wanita karir, sebutan bagi wanita yang bekerja di luar rumah dengan status sukses. Mereka merasa bangga dan sangat terhormat dengan sebutan ini. Menjadi seorang wanita karir ialah idaman setiap wanita. Tak heran bila banyak mereka yang akan menjawab kelak aku akan menjadi wanita karir yang sangat sukses jika ditanya cita-citanya.
                Wanita karir ialah wanita pekerja yang tidak akan pernah puas akan kesuksesan yang telah diraih. Mereka terus giat bekerja untuk meraih segala impiannya. Ketika suatu impian telah tercapai maka mereka tidak akan berlama-lama berdiam diri. Mereka akan mulai membangun mimpi-mimpi mereka yang baru lalu berusaha untuk mewujudkannya. Tuntutan zaman maju tampak menjadi pacuan mereka bekerja keras. Mereka berusaha untuk memfokuskan dirinya pada suatu tujuan. Akibatnya mereka mulai kehilangan sisi kewanitaannya. Mulai melupakan impiannya untuk membentuk sebuah keluarga. Mereka tidak ingin terikat, tidak ingin tertekan, dan mereka tidak menginginkan karirnya hancur begitu saja karena harus menurut kepada suami kelak menikah nanti. Mereka beranggapan jika sudah sukses dan sudah memiliki semua yang mereka inginkan maka menikah tidak berguna lagi. Menikah hanya akan membuat diri mereka menderita.
              Karena kesibukannya, seorang wanita karir telah melupakan dirinya sebagai anak. Tidak ada lagi waktu baginya berkunjung untuk sekedar melihat keadaan orang tuanya. Bahkan lebih parahnya lagi, orangtuanya dikirim ke pantai jompo agar pekerjaannya tidak terganggu. Jika tidak demikian, mereka memanggil jasa seorang pembantu atau suster yang akan menemani orangtuanya di rumah dan mengurus segala keperluannya. Dengan begitu mereka merasa dapat lebih fokus pada pekerjaannya tanpa harus mengurus orangtuanya lagi.
             Sebagai seorang istri, wanita karir bukanlah istri yang baik untuk suaminya. Mereka tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Untuk sekedar membuat sarapan atau menyiapkan keperluan suaminya di pagi hari saja mereka tidak mampu, konon lagi harus mengurus rumah tangganya. Semua pekerjaan itu mereka tugaskan pada pembantu. Akibatnya banyak wanita karir yang tidak mampu mempertahankan rumah tangganya. Mereka terlalu disibukkan dengan pekerjaan di luar rumah sehingga perhatian untuk rumah tangganya sangat kurang.
           Jika pasangan mereka berpenghasilan lebih rendah dari mereka maka wanita karir cenderung memperlakukan pasangannya dengan semena-mena. Tidak ada lagi rasa hormat pada suami. Secara tidak langsung mereka mulai mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Karena berpenghasilan lebih, mereka menuntut untuk tidak lagi mengurus rumah tangganya. Mereka juga cendrung bersifat angkuh, tidak mau peduli, egois, dan suka mengatur. Berbeda dengan wanita karir yang memiliki pasangan yang sukses juga. Mereka akan mengalah dan mau menurut pada suami selama itu tidak mengganggu pekerjaannya tapi tetap saja mereka bukanlah istri yang baik .
            Selain itu, tugas mereka sebagai seorang ibu mulai terlupakan. Ada sebagian wanita karir yang setelah menikah tidak ingin memiliki anak. Ada pula yang menginginkan anak namun tidak ingin mengandungnya. Mereka menggunakan jasa ibu sewa yang akan mengandung dan melahirkan anak mereka. Setelah anak tersebut lahir, mereka akan memanggil pengasuh bayi untuk mengurusnya. Ketika si anak menginjak remaja mereka mengirimkannya untuk bersekolah di asrama. Selama itu pula, mereka tidak pernah meluangkan sedikit waktu untuk anaknya, untuk sekedar memperhatikan pertumbuhannya pun tidak. Mereka beranggapan, dengan bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya maka itu akan membuat si anak bahagia. Akibatnya, si anak mendapatkan kasih sayang yang kurang. Mereka besar dan tumbuh oleh asuhan pembantu, termasuk memberi asi. Itu sebabnya banyak wanita karir yang sukses namun gagal sebagai ibu bagi anaknya.
          Agaknya jelaslah bagi kita semua bahwa kartini dan wanita karir sangatlah berbeda. Kartini menginginkan wanita itu maju dan berpendidikan agar lebih cakap untuk mengurus rumah tangganya dan mendidik anaknya. Itulah tujuan emansipasinya. Wanita karir itu jelas sudah melanggar nilai-nilai murni emansipasi Kartini. Untuk apa emansipasi jika pada akhirnya wanita-wanita itu melupakan kodratnya sebagai seorang wanita, anak, istri, dan ibu.
            Meskipun wanita itu maju dan berpendidikan tinggi, mereka adalah tetap wanita yang secara kodratis memang di bawah lelaki tapi bukan berarti dapat diperlakukan semena-mena. Menjadi wanita karir bukanlah suatu larangan bagi kaum wanita tapi tetap saja harus mengingat batasan-batasan tertentu. Mereka tetap harus mengingat kodrat mereka sebagai seorang wanita dan harus menjalankan fungsinya sebagai seorang anak, istri, dan ibu. Memberatkan memang, selain bekerja di luar mereka juga harus bekerja mengurus rumah tangganya dengan baik. Tapi itulah konsekuensi yang harus mereka tanggung sebagai wanita karir. Jika ini bisa diciptakan, maka wanita sekarang dapat menjadi wanita maju dan berpendidikan yang kelak akan membentuk penerus bangsanya. Mereka pasti sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan begitu, mereka tidak akan lagi menuntut emansipasi melainkan dapat menghargai emansipasi tersebut.


Sebuah resensi novel Wanita Di Jantung Jakarta 
Judul Buku                  : Wanita Di Jantung Jakarta
Pengarang                   : Korrie Layun Rampan
Penerbit                       : Grasindo, Jakarta
Tahun                          : 2000, Cetakan I 2000
Jumlah Halaman          : 156+iv

            Novel  karya Korrie Layun Rampan ini memiliki ending yang sulit untuk ditebak. Meskipun begitu, novel ini telah berhasil menjadi salah satu bacaan hiburan yang berpikir dengan teknik penulisan yang jarang kita temukan pada karya sastra di Tanah Air.
            Korrie Layun Rampan adalah pengarang yang sangat cerdas memainkan ending cerita di setiap novelnya. Dalam novel Wanita Di Jantung Jakarta, Korrie berhasil  menanamkan question ending pada pikiran pembacanya. Lalu, Korrie pun membiarkan pembaca menyelesaikan sendiri ending novel ini.
Tema sentral cerita yang dipilih pun cukup menarik, yaitu kisah perjalanan nasib buruk tokoh Sumarsih. Penulis melukiskan kisah tersebut  dengan sangat klise yang diperkuat oleh dialog-dialog yang  tangkas dan cerdas.
          
“Jangan mencela orang yang teraniaya!” suara wanita lain dari arah yang lain terdengar dalam nada yang membela. “Tak baik mengumpat orang yang terkena bencana!”
“Memang tidak baik,” suara wanita yang lain lagi.
“Kebiasaan mengomel suami jangan dibawa-bawa ke sini.”
“Jangan banyak mulut. Kuremas bibirmu!” wanita yang tadi terdengar berang. “Apa urusanmu dengan wanita itu?”
(Halaman 7 Bagian Kesatu)

             Dialog tersebut sangat cerdas. Selain untuk memperkuat pendeskripsian suasana, penulis juga memanfaatkannya untuk menyampaikan pesan moral. Pesan moral tersebut langsung ditegaskan penulis dalam dialog sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah.
             Alur  yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran yang didominasi alur mundur. Penyampaian cerita secara “curhat” antara tokoh Sumarsih dengan Sumarto memudahkan pembaca untuk menelusuri cerita demi cerita.
               Berawal dari perpisahan Sumarto dengan Sumarsih, konflik cerita mulai terlihat. Sumarsih menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, Tantono untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Lalu, nasib pun mendera Sumarsih. Ia diceraikan suaminya karena ia hamil dengan alasan Sumarsih berselingkuh dengan pria lain. Selain itu, ia pun harus  kehilangan anaknya karena keguguran.  Kejadian ini juga dialami Sumarsih dengan dua suaminya setelah Tantono, yaitu Karsono dan Suwarto. Kehidupan Sumarsih pun semakin gelap. Tidak sampai di situ, Sumarsih juga tertipu calo TKW yang akhirnya mempertemukan Sumarsih dengan Sumarto, pujaan hatinya setelah sepuluh tahun berpisah.
               Nasib tokoh Sumarsih digambarkan penulis dengan sangat berlebihan namun cukup baik untuk membangkitkan ketertarikan pembaca terhadap novel ini. Barangkali jika kita membaca novel ini, kita akan tertawa melihat kekonyolan penulis dalam menggambarkan nasib buruk yang selalu mendera Sumarsih, terasa benar-benar tidak masuk akal.
                Pendeskripsian cerita dengan konotasi yang berlebihan membuat pembaca kesulitan untuk masuk ke dalam novel ini, namun inilah kelebihan penulis.

Langit malam tak tampak menguraikan hujan. Hanya kelam menyergap di seantero sudut kota, menyusup di antara pijaran lampu-lampu merkuri yang mempesiang malam Jakarta.
Angin tak juga menggugurkan daun-daun.
Gerah yang tadi terasa menyesakkan seakan lindap dalam bayangan kelam, menyusup ke awang-awang, dan pori-pori tanah. Segala yang panas dan mengandung dahaga seperti terserap oleh cuaca, terangkat ke cakrawala, memasuki ruang kesejukan purnama.
Di jauhan hanya deru yang tak kenal waktu.
(Halaman 1, Bagian Kesatu)

                Karena kesulitan pembaca untuk mengerti maksud Korrie dalam  novel ini maka secara tidak langsung Korrie membiarkan pembaca menafsirkan sendiri cerita novel ini seperti apa.
                Hal yang menarik dari novel ini adalah permainan perasaan pembaca oleh penulis yang selalu dipenuhi rasa penasaran terhadap bagaimana nasib tokoh Sumarsih selanjutnya. Selain itu, penulis juga sering menyelipkan peristiwa-peristiwa nyata yang dialaminya seperti,  pernah aku diceritakan kawanku Maaruf yang merasakan perjalanan kematian, sebuah perjalanan dalam langkah-langkah yang fantastis...
(Halaman 5 Bagian Kesatu)

                 Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannya, novel ini membuat pembacanya kesulitan untuk menangkap maksud Korrie karena terlalu banyaknya penggunaan makna konotasi dalam setiap pendeskripsian cerita. Meskipun begitu, secara keseluruhan novel ini cukup bagus untuk mencerdaskan daya khayal pembaca dalam mendeskripsikan suatu hal.


Sebuah Sinopsis Novel Korrie Layun Rampan

        Profesi Sumarto sebagai wartawan, kuli tinta yang selalu berburu dengan waktu, membuatnya harus melintasi kawasan satu ke kawasan lainnya demi sebuah santapan berita. Inilah yang mengantarkannya sampai di kuburan pada larut malam. Kerumunan orang yang sedang menyaksikan sebuah wajah yang pasrah pada cahaya bulan menarik hati Sumarto untuk mengetahuinya lebih lagi. Ketika wajah tersebut mulai melawan pada cahaya bulan, bergerak perlahan, Sumarto merasa ia begitu dekat dengannya. Memorinya pun berkerja tajam untuk membalikkan masa-masa yang lewat. Tepat sekali, wajah tersebut memang pernah dekat dengan Suamrto, sepuluh tahun yang lalu, dimana keduanya pernah terikat oleh indahnya cinta di bangku kuliah.
        Sumarsih, begitulah nama wajah tersebut, wajah yang dulunya pernah mengisi hari-hari Sumarto. Sepuluh tahun terpisah membuat keduanya seperti tersengat listrik ketika kedua mata mereka bertatapan langsung.
        Kini Sumartodan Sumarsih duduk saling berhadapan. Semuanya masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah pada diri mereka meskipun sepuluh tahun telah berlalu. Kesempatan ini mereka gunakan untuk menyampaikan unek-unek yang terpendam sekian lama termasuk hal apa yang mengantarkan mereka pada perpisahan yang sepihak.
         Ironis sekali bagi Sumarto mendengar Sumarsih meninggalkan bangku kuliahnya hanya untuk bersanding dengan lelaki lain, Tantono karena paksaan nasib. Maksud hati Sumarsih menikah dengan Tantono, seorang kaya di utara semata-mata hanya untuk memperbaiki kehidupan orangtuanya. Namun, sungguh sangat disayangkan semua yang terjadi bertolak belakang dengan harapan Sumarsih. Hidupnya pun semakin menderita dari sebelumnya.
        Nasib buruk belum juga berpindah dari Sumarsih. Tantono menceraikannya karena ia hamil. Ia menuduh Sumarsih bermain belakang dengan lelaki lain, Sumarto. Bukan itu saja, Tantono juga menyebabkan Sumarsih keguguran dan kehilangan anaknya. Setelah itu hari-hari Sumarsih selalu terisi kehampaan.
       Waktu berlalu, hidup dengan predikat janda membuat Sumarsih mulai cemas akan masa depannya sehingga pada suatu waktu ia bertemu dengan Karsono dan memutuskan untuk menikah dengannya. Lagi-lagi nasib mendera Sumarsih. Kenyataan yang terjadi selalu berbalik dengan harapannya, malah kali ini lebih parah dari sebelumnya. Ternyata Karsono lebih bejat dari Tantono. Ia juga menceraikan Sumarsih  ketika Suamrsih hamil dengan tuduhan Sumarsih selingkuh dengan pria lain. Akibat perbuatan Karsono pula, lagi-lagi Sumarsih harus kehilangan anaknya dan bukan hanya itu saja, Sumarsih juga kehilangan perhiasan dan harta bendanya. Semuanya habis dijudikan oleh Karsono.
        Lelah dengan nasib yang begitu terus membuat Sumarsih mulai menutup dirinya terhadap lelaki namun ia tak kuasa menahan gejolak cintanya yang tumbuh kembali. Sumarsih jatuh cinta pada Suwarto, salah satu kolega bisnis perkebunan bawang putihnya. Saat itu keadaan perekonomian Sumarsih cukup baik daripada sebelumnya. Ia pun menerima lamaran Suwarto dan menggabungkan kedua bisnis mereka.
         Awal bahagia pernikahan terasa juga oleh Sumarsih ditambah bisnisnya pun semakin berkembang. Lalu keduanya memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Nah, di Jakarta inilah Sumarsih kembali berhadapan dengan nasib buruk. Untuk ketiga kalinya ia diceraikan karena ia hamil dengan alasan yang sama, yaitu tuduhan selingkuh. Sumarsih pun kehilangan anaknya, Marisi. Rasanya takdir tak adil padanya, namun lagi-lagi Sumarsih masih bisa menjalani kehidupan ini meskipun dengan luka-luka yang begitu dalam terukir di hatinya. Belum cukup sampai di situ, bisnis Sumarsih pun bangkrut karena Suwarto menimbun hutang dimana-mana dan yang lebih menyakitkan lagi, nasib membawa Sumarsih terlibat dalam kasusnya Suwarto yang ternyata adalah seorang buronan yang paling dicari.
        Karena nasib buruk tersebut, Sumarsih berniat pergi ke luar negeri untuk menjadi seoarang TKW. Ia berharap dengan begitu ia mampu memperbaiki kehidupannya. Lagi-lagi harapan Sumarsih hanyalah angan-angan hampa belaka, sebab apa yang terjadi sangat berbalik dengan harapannya. Sumarsih tertipu calo TKW, Pitak Sastra yang telah menghabiskan seluruh harta bendanya. Keberadaan Sumarsih di kuburan anaknya, Marisi adalah strategi calo TKW tersebut untuk menelantarkan dan merampas harta bendanya Sumarsih.
         Hari-hari berlalu, cerita hidup Sumarsih pun kini usai untuk didengarkan oleh Sumarto. Pagi ini Sumarto berniat untuk melamar Sumarsih, mewujudkan mimpi-mimpinya dulu ketika masih bersanding sebagai pasangan kekasih dengan Sumarsih. Namun, Sumarsih menolak lamaran Sumarto karena merasa dirinya telah begitu hina untuk seorang Sumarto. Sumarto tidak mempedulikan alasan itu karena baginya itu benar-benar tidak masuk akal. Sembari menunggu jawaban lamaran dari Sumarsih, keduanya dikejutkan oleh kedatangan tamu yang tak diundang dan tentu saja itu mengganggu ketentraman hati keduanya.
         Tamu tersebut adalah petugas yang akan menjemput Sumarsih untuk pemeriksaan atas beberapa kemungkinan keterlibatan Sumarsih dengan kasus empat pria yang sebelumnya dekat dengan Sumarsih. Mendengar informasi tersebut, Sumarto diam hampir tak bernapas dan serasa berputar pada ruangan hampa menanyakan mengapa wanita di jantung Jakarta ini selalu didera keburukan nasib?