Jadi belajar vak itu cuma perlu supaya jangan dapat dipaksa kawin dengan orang yang tidak disukainya, dan juga supaya jangan merasa wajib takluk kepada suaminya. Jika perempuan itu berpelajaran, lebih cakaplah dia mendidik anaknya dan lebih cakaplah dia mengurus rumah tangganya, dan lebih majulah bangsanya.
(Sifat Cita-cita Kartini oleh Armijn Pane)
Emansipasi Kartini mungkin telah mencapai hasilnya sekarang. Wanita sudah sejajar hak dan kedudukannya dengan pria. Tidak ada lagi perlakuan yang mengistimewakan pria dari wanita. Kini, wanita sudah dihargai keberadaannya dan dapat berkembang. Tidak lagi kaku dan kolot akan adat lama dimana wanita selalu berada di bawah pria.
Tapi, sejauh manakah wanita menginginkan emansipasi kaumnya? Sayang sekali emansipasi wanita seperti apa yang dicita-citakan Kartini tidak lagi bertahan sekarang, mungkin kita semua ingin bertanya, sampai sejauh manakah emansipasi itu?
Yeni, teman ibu saya, pada awalnya melanjutkan kuliah pasca sarjananya semata-mata hanya untuk memenuhi panggilan kerja. Beliau mendapatkan beasiswa kerja untuk pendidikan strata duanya. Setelah selesai dengan pendidikannya, beliau kembali bekerja dan naik jabatan. Karenanya, pekerjaan beliau semakin bertambah dan itu menyebabkan dia sangat sibuk. Pergi pagi, pulang larut malam, begitulah hari-harinya setelah naik jabatan. Karena kesibukannya itu, ia memutuskan untuk menunda pernikahannya padahal usianya sudah cukup umur. Akhir cerita, beliau tidak jadi menikah, calon suaminya merasa keberatan kalau harus menunda pernikahan mereka lagi ketika Yeni memutuskan untuk melanjutkan strata tiganya.
“Menikah itu bisa nanti, jika waktunya sudah tepat aku pasti akan menikah. Yang terpenting itu pendidikan dan pekerjaanku. Jika aku sukses, suami itu bakalan datang dengan sendirinya.” ujarnya ketika ibu saya menanyakan mengapa beliau belum juga menikah.
Tetangga saya yang berprofesi sebagai manajer di sebuah perusahaan memutuskan untuk sendiri setelah ia gagal berumah tangga sebelumnya. Beliau sudah terbiasa dengan kebebasan. Ia tidak ingin terikat dalam hal apapun, termasuk dalam suatu pernikahan dan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia berhenti dari pekerjaannya karena merasa terkekang oleh tuntutan kerja yang tidak disukainya, padahal waktu itu ia sedang dipromosikan untuk naik jabatan.
“Untuk apa bekerja kalau tersiksa terus seperti itu, kaku dan tidak berkembang!” tegasnya ketika ditanya mengapa ia berhenti berkerja.
Begitu juga dengan pernikahannya yang hanya bertahan selama dua bulan. Ia merasa diperlakukan dengan rendah oleh suaminya. Benar-benar terkekang, apa-apa salah, pergi kemanapun tidak boleh jika tidak ditemanin suami. Harus menurut terus pada kata-kata suami, jika tidak maka akan disebut pembangkang.
“Dia maunya aku harus terus berada di rumah, menurut pada katanya, tidak boleh bekerja, pergi kemanapun tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa bebas sementara dia bisa kemanapun, melakukan hal-hal yang disukainya,” ungkapnya dengan kesal.
“Itulah sebabnya aku tidak mau menikah lagi. Aku tidak ingin menderita, tidak ingin terikat, tidak ingin tertekan, terlebih-lebih lagi aku tidak ingin kaku. Aku ingin berkembang.” tambahnya.
Wira, teman kakak saya, bercita-cita menjadi seorang wanita karir yang sukses. Dia beranggapan dengan menjadi seorang wanita karir, dia tidak perlu repot lagi mengurus anak dan rumah tangganya kelak jika sudah menikah. Semuanya akan dikerjakan oleh pembantu.
“Percuma dong aku sekolah tinggi-tinggi dan berkerja kalau harus mengurus anak dan suami lagi,” katanya dengan sewot.
Akhir-akhir ini banyak sekali wanita yang tidak mengenal pekerjaan rumah. Mereka tidak bisa memasak, mencuci pakaian, setrika, mengepel, dan sebagainya. Ini disebabkan oleh perkembangan budaya modern dimana segala sesuatunya instant. Selain itu, pola asuh anak sekarang yang terlalu dimanjakan juga menjadi penyebabnya. Karena ada pembantu, semua perkerjaan rumah diserahkan kepada pembantu. Anak tidak lagi diajari untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang kecil, memasak contohnya. Untuk sekedar memasak nasi saja pun, mereka tidak bisa.
Sebagian besar mahasiswi menganggap mereka tidak pantas untuk mengerjakan perkerjaan rumah. Bagi mereka, pekerjaan rumah hanya pantas dikerjakan oleh wanita-wanita yang berpendidikan rendah. Kakak saya yang kuliah jurusan teknik, seringkali malas jika disuruh masak. Menurutnya, memasak hanyalah pekerjaan wanita-wanita kalem saja. Sangat tidak cocok dengan dirinya yang tomboi. Dia lebih memilih mencuci pakaian atau membersihkan rumah daripada memasak. Akibatnya, kakak saya tidak bisa memasak.
“Masak itu cocoknya buat wanita-wanita yang kerjanya pakai rok, yang hanya duduk manis di kantornya. Nah, kalau untuk kami anak teknik, sangat-sangat tidak cocok.” ujarnya dengan santai.
“Baiklah sekarang masih dimasakin. Bagaimana jika kau sudah menikah nanti? Mau kau kasih makan apa suamimu?” komentar ibu saya.
“Gampang, kan ada pembantu. Untuk itulah aku sekolah baik-baik dan bekerja biar aku nggak ke dapur lagi.” tambah kakak saya.
“Iya kalau suamimu mau makan masakan pembantu, kalau nggak gimana? Ibu aja yang bekerja masih harus ke dapur lagi.”
“Tapi kan zaman sudah berubah bu. Untuk itulah adanya emansipasi, biar wanita nggak harus selamanya ke dapur.” jelasnya.
Sekarang ini banyak istri yang berpendidikan lebih tinggi dari suaminya. Tak heran bila jabatan dan penghasilan mereka juga lebih dari sang suami. Mereka-mereka itu sangat sibuk sekali. Semua waktu dan perhatiaan hanya tertuju pada karirnya. Mereka sangat jarang berada di rumah sehingga segala urusan rumah tangga dan mendidik anak mereka serahkan pada pembantu. Jika ada waktu libur, mereka mempergunakannya untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor. Tiada lagi waktu buat keluarganya. Pada akhirnya, rumah tangganya berantakan, tidak terurus lagi. Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi anak pembantu. Biasanya, mereka-mereka ini rentan dengan perceraian.
Selain tidak mampu mempertahankan kodratnya sebagai seorang wanita yang menjadi ibu, istri, dan anak. Wanita-wanita pekerja itu atau wanita karir biasa disebut kini juga telah melanggar emansipasi Kartini. Karena bisa maju dan berkembang, mereka ingin suatu kedudukan yang lebih dari pria, mereka tidak ingin sejajar. Perkembangan zaman membuat mereka lupa kacang akan kulitnya. Hal itulah yang pada akhirnya memunculkan gerakan “Powerful Woman”, wanita kuat seperti tokoh perfilman Cat Woman dan Charlie’s Angels.
Seperti itukah emansipasi yang diinginkan Kartini, emansipasi yang membuat wanita lupa akan kodratnya sebagai seorang wanita?
Dalam suatu obrolan di twitter, aktor Darius Sinathrya mengatakan bahwa emansipasi dalam harapan Kartini ialah kesetaraan dalam segala hal, bukan hanya status tapi realita yang sebenarnya karena setiap manusia diciptakan sama, pria dan wanita untuk saling melengkapi.
Semaju apapun seorang wanita dan setinggi apapun pendidikannya, tentu mereka tetap harus mengingat kodratnya. Wanita boleh saja maju tapi ia harus ingat bahwa semua itu tidaklah boleh melebihi kodrat seorang pria, setara paling tidak. Wanita diberi kesempatan untuk maju dan berkembang agar kelak mampu menjadi ibu, istri, dan anak yang baik. Mereka mampu mengurus rumah tangganya dan mendidik anaknya dengan cakap. Dengan begitu dapat majulah bangsanya.
Seandainya Kartini melihat kenyataan ini, masih maukah beliau bersusah payah memperjuangkan emansipasi kaumnya? Dapatkah beliau mewujudkan cita-citanya itu? Banggakah beliau dengan emansipasi kini? Lantas, seperti apakah sebenarnya emansipasi wanita yang beliau inginkan?

